BANTAENG — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Perubahan Iklim Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 116 mensosialisasikan dan menyerahkan satu unit tungku pembakaran minim asap kepada Pemerintah Desa Ulugalung, Kecamatan Eremerasa, Kabupaten Bantaeng. Sosialisasi dilaksanakan di Kantor Desa Ulugalung pada Selasa (4/8/2026) pukul 09.00 dan dihadiri 12 peserta, sedangkan penyerahan tungku beserta Buku Saku kepada Kepala Desa, Haleko HB, dilakukan pada Jumat (14/8/2026). Program kerja ini dipimpin oleh A. M. Ikhwanul Muchlisin, mahasiswa Teknik Sipil Unhas, selaku PIC program kerja tungku.
Program ini dilatarbelakangi kebiasaan sebagian warga membakar sampah rumah tangga secara terbuka, yang menghasilkan asap dan emisi yang berkaitan dengan kualitas udara dan perubahan iklim. Sebagai alternatif, mahasiswa bersama warga membuat tungku dari drum bekas berukuran drum Pertamina pada 25 Juli hingga 3 Agustus 2026. Tungku dilengkapi lubang udara di sisi bawah dan atas serta alas berbentuk baling-baling agar pembakaran lebih terkendali. Pada uji coba 3 Agustus dengan sampah daun kering, video yang ditayangkan saat sosialisasi memperlihatkan bahwa pembakaran terbuka menghasilkan asap lebih banyak daripada pembakaran di dalam tungku. Pengamatan ini bersifat visual dan belum disertai pengukuran emisi.
Dalam sosialisasi, A. M. Ikhwanul Muchlisin memaparkan tata cara penggunaan tungku, pemilahan sampah, dan perawatan tungku, dilanjutkan peragaan dan diskusi bersama peserta. Tungku hanya diperuntukkan bagi sampah kering seperti daun kering, ranting, potongan kayu, dan sekam padi, sedangkan plastik, karet, ban, dan limbah kimia tidak boleh dibakar. Tungku kini berada di Kantor Desa dan pengelolaannya menjadi tanggung jawab pemerintah desa. Mahasiswa berharap tungku dan Buku Saku dapat dimanfaatkan secara tertib, sementara dampaknya terhadap kebiasaan warga dan kualitas udara masih perlu dipantau setelah KKN berakhir.
Agenda utama dalam kegiatan tersebut meliputi edukasi mengenai pembuatan briket dari limbah bonggol jagung serta pengenalan penggunaan tungku pembakaran minim asap. Kedua inovasi ini dipilih mahasiswa KKN-T sebagai solusi atas persoalan lingkungan yang selama ini dihadapi warga desa, khususnya terkait pengelolaan limbah pertanian dan sampah rumah tangga yang belum tertangani secara maksimal.
Program kerja ini dilatarbelakangi oleh tingginya volume limbah bonggol jagung hasil pertanian masyarakat yang selama ini terbuang dan belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, sebagai daerah dengan sektor pertanian jagung yang cukup dominan, Desa Ulugalung menghasilkan limbah bonggol jagung dalam jumlah besar setiap musim panen. Selama ini, limbah tersebut kerap dibiarkan menumpuk atau dibakar begitu saja tanpa memberikan nilai ekonomis bagi masyarakat.
"Kami melihat potensi bonggol jagung ini cukup besar, tapi selama ini belum dimanfaatkan dengan baik oleh warga. Makanya kami coba berbagi cara pengolahannya menjadi briket yang punya nilai jual," ujar Ahmad Billah selaku PIC program kerja saat memberikan pemaparan materi.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa bertujuan membagikan wawasan mengenai pengolahan limbah pertanian agar dapat diubah menjadi produk bernilai tambah dan ekonomis, yakni briket. Briket berbahan dasar bonggol jagung dinilai memiliki potensi sebagai sumber energi alternatif pengganti kayu bakar maupun arang konvensional, sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat setempat.
Selain itu, sosialisasi terkait tungku pembakaran minim asap juga dipaparkan sebagai solusi bagi masyarakat dalam mengelola sampah kering. Inovasi tersebut ditujukan untuk memfasilitasi proses pengolahan sampah yang lebih ramah lingkungan dan mencegah timbulnya polusi udara yang berpotensi merusak ekosistem sekitar, sekaligus menjaga kesehatan pernapasan warga yang selama ini terpapar asap pembakaran sampah secara konvensional.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui metode pemaparan materi yang dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif secara langsung bersama warga di balai kantor desa. Masyarakat Desa Ulugalung menunjukkan antusiasme yang tinggi sepanjang berlangsungnya acara. Hal tersebut tercermin dari partisipasi aktif warga dalam sesi tanya jawab serta diskusi mendalam mengenai teknis pengaplikasian inovasi tersebut di lingkungan mereka.
Dalam sesi diskusi, sejumlah warga mengemukakan pendapat bahwa inovasi pembuatan briket memiliki prospek ekonomi yang dinilai menguntungkan. Peluang usaha ini didukung oleh faktor ketersediaan bahan baku bonggol jagung yang sangat melimpah dan mudah didapatkan dari lumbung-lumbung jagung yang tersebar di wilayah Desa Ulugalung.
"Bonggol jagung ini kan selama ini cuma jadi sampah, dibuang atau dibakar saja. Kalau memang bisa diolah jadi briket dan punya nilai jual, ini peluang bagus buat kami, apalagi bahannya melimpah di sini," ungkap salah satu warga yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Mahasiswa KKN-T berharap, melalui sosialisasi ini, masyarakat dapat terus mengembangkan dan menerapkan kedua inovasi tersebut secara berkelanjutan, sehingga mampu memberikan manfaat jangka panjang baik dari sisi ekonomi maupun kelestarian lingkungan di Desa Ulugalung.
Kembali
Berita
Mahasiswa KKN-T Unhas Gelombang 116 Sosialisasikan Pemanfaatan Limbah Bonggol Jagung dan Tungku Minim Asap di Bantaeng
admin