RISE Makassar Jadi Model Penataan Permukiman Kumuh Berkelanjutan, Dipaparkan dalam Forum Koordinasi Kemenko Infrastruktur
Koordinator RISE Dr. Ansariadi – yang juga merupakan Dekan FKM UNHAS saat ini - memaparkan hasil riset dan implementasi program RISE (Revitalising Informal Settlements and Their Environments) dalam Forum Koordinator Penanganan Permukiman Kumuh yang diselenggarakan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan. Forum ini dihadiri Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Menteri PKP Maruarar Sirait, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Ka Bakom RI) Muhammad Qodari, Wamen KKP Didit Herdiawan Ashaf, Wamendagri Bima Arya, Waka BRIN Amarulla Octavian, jajaran Kementerian PKP, Kementerian PU, dan Kementerian Keuangan, serta para pimpinan kementerian/lembaga, dunia usaha, akademisi, mitra pembangunan, tokoh masyarakat, dan para Kepala Daerah yang hadir di Gedung BJ Habibie BRIN Jakarta. RISE merupakan kerjasama antara Universitas Hasanuddin dan Monash University dalam mengimplementasikan metode penelitian RCT (Randomised Controlled Trial) untuk melihat peningkatan kualitas Kesehatan dari hasil implementasi infrastruktur peka air menggunakan nature based-solution.
Dalam paparannya, Ansariadi menjelaskan RISE sebagai program penelitian transdisipliner yang mengintegrasikan isu kesehatan, lingkungan, air, dan sanitasi. Program ini diterapkan di lima lokasi permukiman informal di Makassar serta di Suva, Fiji, menyasar kawasan padat penduduk yang rentan terhadap genangan pasang-surut, banjir, drainase buruk, dan minimnya akses sanitasi dan air bersih. Melalui pendekatan water-sensitive dan solusi berbasis alam (nature-based solutions), RISE mengombinasikan infrastruktur hijau, dan cerdas — mencakup lebih dari 3 kilometer drainase dan akses jalan, 53 unit toilet baru/renovasi, 66 pompa bertekanan, 284 tangki air hujan, serta 33 rawa buatan komunal untuk pengolahan air limbah rumah tangga.
Ansariadi menekankan bahwa keberhasilan program ini tidak lepas dari proses desain partisipatif bersama enam komunitas warga. Capaian RISE turut mendapat pengakuan internasional sebagai finalis WRI Ross Prize for Cities pada April 2026 di New York. Ke depan, Kemenko dan Bappenas menjajaki replikasi model ini secara nasional, termasuk melalui kerja sama Program KINETIK dengan Pemerintah Australia serta pelatihan water sensitive cities.
Kembali
Berita
RISE Makassar Jadi Model Penataan Permukiman Kumuh Berkelanjutan
admin