Pada hari Selasa, tanggal 4 Agustus 2026, bertempat di Desa Cimpu, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu, telah dilaksanakan kegiatan Sosialisasi Pembentukan Desa Tangguh Bencana (DESTANA) sebagai salah satu program kerja kelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Kegiatan ini dilaksanakan atas kerja sama mahasiswa KKN dengan Pemerintah Desa Cimpu dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu. Kegiatan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kesiapsiagaan pemerintah desa serta masyarakat dalam menghadapi potensi bencana sekaligus memberikan pemahaman mengenai pentingnya pembentukan Desa Tangguh Bencana.
Desa merupakan lingkungan yang memiliki peran penting dalam upaya pengurangan risiko bencana. Berbagai potensi bencana dapat memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat sehingga diperlukan kesiapsiagaan dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat.
Penanggulangan bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat dan seluruh unsur yang terdapat di desa. Oleh karena itu, diperlukan suatu upaya yang dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali risiko, melakukan pencegahan, serta mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi bencana.
Berdasarkan hal tersebut, mahasiswa KKN mengangkat kegiatan Sosialisasi Pembentukan Desa Tangguh Bencana (DESTANA) dengan menggandeng BPBD Kabupaten Luwu sebagai narasumber. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat Desa Cimpu serta mendorong terbentuknya koordinasi yang lebih baik antara pemerintah desa, masyarakat, dan pihak terkait.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Kepala Desa Cimpu, Alimuddin S. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi terhadap mahasiswa KKN yang telah mengangkat program kerja terkait kebencanaan dan menggandeng BPBD Kabupaten Luwu dalam pelaksanaannya.
Beliau menyampaikan bahwa kesiapsiagaan terhadap bencana merupakan hal yang penting bagi masyarakat desa karena kondisi kebencanaan tidak dapat diprediksi secara pasti. Menurut beliau, masyarakat perlu diberikan pemahaman mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi bencana sehingga tidak hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah.
Kepala Desa Cimpu juga menyampaikan bahwa Pemerintah Desa akan mendukung upaya-upaya yang dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Menurutnya, pembentukan DESTANA dapat menjadi salah satu langkah untuk memperkuat kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga keselamatan lingkungan desa.
“Kami dari Pemerintah Desa Cimpu sangat mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN ini. Sosialisasi seperti ini penting agar masyarakat mengetahui apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana. Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti pada sosialisasi saja, tetapi dapat menjadi langkah awal untuk membangun kesiapsiagaan masyarakat di desa.”
Setelah sambutan Kepala Desa, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Zaenal Effendy selaku pemateri dari BPBD Kabupaten Luwu.
Materi yang disampaikan meliputi konsep Desa Tangguh Bencana, pengenalan potensi dan risiko bencana, pentingnya kesiapsiagaan masyarakat, mitigasi bencana, serta tindakan yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah terjadinya bencana.
Dalam penyampaiannya, Zaenal Effendy menekankan bahwa Desa Tangguh Bencana bukan berarti desa yang terbebas dari bencana, tetapi desa yang memiliki kemampuan untuk mengenali risiko, mengurangi dampak, dan mempersiapkan masyarakat agar mampu menghadapi bencana.
Beliau menyampaikan:
“Desa Tangguh Bencana bukan berarti desa yang tidak pernah mengalami bencana, tetapi desa yang masyarakatnya memiliki pengetahuan, kesiapsiagaan, dan kemampuan untuk menghadapi serta mengurangi risiko bencana yang ada di lingkungannya.”
Zaenal Effendy juga menjelaskan bahwa keberhasilan penanggulangan bencana tidak hanya ditentukan oleh pemerintah maupun lembaga terkait. Masyarakat memiliki peran yang sangat penting karena masyarakat merupakan bagian yang paling dekat dengan lingkungan dan dapat menjadi pihak pertama yang melakukan tindakan ketika terjadi keadaan darurat.
Beliau juga menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah desa, kepala dusun, masyarakat, pemuda, serta unsur lainnya. Dengan adanya koordinasi yang baik, masyarakat dapat mengetahui langkah yang harus dilakukan serta pihak yang perlu dihubungi ketika terjadi bencana.
“Yang paling penting dari DESTANA adalah bagaimana masyarakat bisa membangun kesiapsiagaan bersama. Pemerintah desa dan masyarakat harus saling berkoordinasi, sehingga ketika terjadi bencana, masyarakat sudah mengetahui apa yang harus dilakukan dan siapa yang harus dihubungi.”
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanggapan dari para kepala dusun yang berada di wilayah Desa Cimpu.
Kepala Dusun Guntur menyampaikan bahwa sosialisasi mengenai DESTANA memberikan pemahaman yang penting bagi pemerintah dusun dan masyarakat. Menurut beliau, kesiapsiagaan perlu dibangun mulai dari tingkat dusun karena kepala dusun merupakan salah satu unsur yang berhubungan langsung dengan masyarakat.
Beliau juga menyampaikan perlunya meningkatkan komunikasi antara masyarakat dan pemerintah apabila terjadi kondisi yang berpotensi menimbulkan bencana.
“Kami melihat kegiatan ini sangat penting karena masyarakat perlu mengetahui bagaimana menghadapi kondisi bencana. Dari tingkat dusun, kami siap mendukung dan membantu menyampaikan informasi kepada masyarakat agar kesiapsiagaan dapat dibangun bersama.”
Kepala Dusun Dermawan memberikan tanggapan mengenai pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kondisi lingkungan sekitar. Menurut beliau, masyarakat perlu memiliki pengetahuan mengenai potensi risiko yang dapat terjadi sehingga dapat melakukan langkah pencegahan sejak awal.
Beliau berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan agar masyarakat tidak hanya memahami kebencanaan secara teori, tetapi juga mengetahui tindakan yang tepat ketika menghadapi kondisi darurat.
“Masyarakat perlu dibiasakan untuk mengenali kondisi lingkungan dan mengetahui apa yang harus dilakukan apabila terjadi bencana. Sosialisasi ini menjadi langkah yang baik untuk membangun kesadaran tersebut.”
Kepala Dusun Ilham menyampaikan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam mewujudkan desa yang tangguh terhadap bencana. Menurut beliau, kesiapsiagaan tidak dapat dibangun hanya oleh pemerintah, tetapi harus dilakukan secara bersama-sama.
Beliau juga menilai bahwa pemuda dan masyarakat perlu dilibatkan dalam upaya membangun kesiapsiagaan di tingkat dusun.
“Kesiapsiagaan ini harus menjadi tanggung jawab bersama. Tidak hanya pemerintah desa, tetapi masyarakat dan pemuda juga perlu dilibatkan agar ketika terjadi keadaan darurat, kita sudah memiliki kesiapan dan dapat saling membantu.”
Kepala Dusun Arman menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan sosialisasi yang menurutnya memberikan wawasan baru mengenai pentingnya kesiapsiagaan bencana di tingkat desa.
Beliau menekankan pentingnya keberlanjutan dari kegiatan tersebut agar pengetahuan yang diperoleh masyarakat dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami mengapresiasi kegiatan ini karena memberikan pengetahuan yang sangat berguna bagi masyarakat. Harapannya, apa yang disampaikan hari ini dapat diterapkan dan tidak berhenti hanya pada kegiatan sosialisasi.”
Setelah penyampaian materi dan tanggapan dari para kepala dusun, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Dalam sesi tersebut, peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan, pengalaman, serta kondisi yang berkaitan dengan kebencanaan di lingkungan Desa Cimpu.
Diskusi berlangsung secara interaktif dan menjadi sarana untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam menghadapi potensi bencana. Selain itu, diskusi juga memperlihatkan pentingnya komunikasi dan koordinasi antara masyarakat, pemerintah desa, kepala dusun, mahasiswa KKN, dan BPBD Kabupaten Luwu.
Berdasarkan pelaksanaan kegiatan, sosialisasi memberikan pemahaman awal kepada pemerintah desa, kepala dusun, dan masyarakat mengenai konsep serta pentingnya pembentukan Desa Tangguh Bencana.
Adapun hasil dan output kegiatan meliputi:
1. Meningkatnya pemahaman pemerintah desa dan masyarakat mengenai konsep Desa Tangguh Bencana (DESTANA).
2. Meningkatnya kesadaran mengenai pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana.
3. Bertambahnya pengetahuan mengenai pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan pemulihan bencana.
4. Terbangunnya komunikasi antara Pemerintah Desa Cimpu, kepala dusun, masyarakat, mahasiswa KKN, dan BPBD Kabupaten Luwu.
5. Tersampaikannya pemahaman awal mengenai langkah-langkah yang diperlukan dalam mendukung pembentukan DESTANA.
6. Munculnya komitmen awal dari unsur pemerintah desa dan kepala dusun untuk mendukung peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan tersebut, diharapkan Pemerintah Desa Cimpu bersama masyarakat dapat terus meningkatkan kesiapsiagaan dan koordinasi dalam menghadapi potensi bencana.
Kegiatan sosialisasi ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan penyampaian informasi, tetapi dapat menjadi langkah awal dalam mendorong terbentuknya Desa Tangguh Bencana secara berkelanjutan. Pemerintah desa, kepala dusun, masyarakat, pemuda, dan unsur terkait diharapkan dapat mengambil peran sesuai dengan kapasitas masing-masing.
Demikian berita acara kegiatan Sosialisasi Pembentukan Desa Tangguh Bencana (DESTANA) bersama BPBD Kabupaten Luwu ini dibuat sebagai bentuk dokumentasi dan pertanggungjawaban atas pelaksanaan program kerja mahasiswa KKN.
Melalui kegiatan ini, diharapkan Desa Cimpu dapat terus membangun kesadaran, pengetahuan, dan kesiapsiagaan masyarakat sehingga mampu mengurangi risiko serta menghadapi berbagai kemungkinan bencana dengan lebih baik.
Kembali
Berita
SOSIALISASI PEMBENTUKAN DESA TANGGUH BENCANA (DESTANA) BERSAMA BPBD KABUPATEN LUWU
admin