Toraja Utara – Bagaimana jika berbagai fasilitas, wilayah, dan potensi wisata yang tersebar di Lembang Polopadang dapat ditemukan dalam satu peta? Pertanyaan sederhana tersebut menjadi salah satu dasar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Desa Wisata Gelombang 116 Universitas Hasanuddin dalam menyusun Peta Digital Lembang Polopadang, Kecamatan Kapala Pitu, Kabupaten Toraja Utara.

Program kerja ini dilaksanakan melalui proses yang berlangsung sejak 20 Juli hingga 6 Agustus 2026. Selama kurang lebih dua minggu, mahasiswa tidak hanya mengumpulkan nama-nama lokasi, tetapi juga melakukan penelusuran wilayah, pendataan, dokumentasi, penyusunan data, hingga memastikan informasi yang dikumpulkan dapat ditampilkan dalam satu peta digital. Proses tersebut dilakukan secara bertahap agar peta yang dihasilkan dapat menggambarkan kondisi dan lokasi penting yang terdapat di Lembang Polopadang.

Berawal dari Mengenali Wilayah

Tahap awal pembuatan peta dimulai dengan mengenali wilayah dan menentukan lokasi yang perlu dimasukkan. Mahasiswa mengidentifikasi berbagai objek yang memiliki fungsi bagi masyarakat maupun yang dapat menjadi informasi bagi pengunjung. Fasilitas pemerintahan, sekolah, fasilitas kesehatan, tempat ibadah, pasar, wilayah dusun, jalan, pemukiman, dan objek wisata menjadi bagian dari lokasi yang didata.

Pendataan kemudian dilanjutkan dengan penelusuran langsung ke lokasi. Mahasiswa mencatat nama objek dan informasi lokasi yang diperlukan, sekaligus melakukan dokumentasi. Proses turun langsung ke lapangan menjadi bagian penting karena data yang dikumpulkan tidak hanya berasal dari daftar lokasi, tetapi juga disesuaikan dengan keberadaan objek yang ditemukan di wilayah Lembang Polopadang.

Setelah data lapangan terkumpul, informasi mulai disusun berdasarkan kategori. Pengelompokan ini dilakukan agar peta nantinya tidak menjadi kumpulan titik yang sulit dibaca. Setiap lokasi ditempatkan pada kategori yang sesuai, seperti pemerintahan, pendidikan, kesehatan, peribadatan, wisata, wilayah administrasi, jalan raya, perdagangan, dan pemukiman.

Menghimpun 30 Objek dalam Satu Peta

Dari proses pendataan tersebut, berhasil dihimpun 30 objek yang menjadi bagian dari Peta Digital Lembang Polopadang. Data tersebut terdiri atas satu batas wilayah, tiga objek pemerintahan, enam tempat peribadatan, lima fasilitas pendidikan, dua fasilitas kesehatan, empat objek wisata, lima wilayah administrasi, satu jalan raya, dua fasilitas perdagangan, dan satu pemukiman.

Pada kategori pemerintahan, terdapat Kantor Lembang Polopadang, Kantor Kecamatan Kapala Pitu, serta Balai Pertanian dan Peternakan. Sementara itu, fasilitas pendidikan yang dipetakan meliputi TK Negeri Kartini Polopadang, SDN 1 Kapala Pitu, SMPN 2 Kapala Pitu, SMAN 10 Toraja Utara, dan PPA To'Limbong.

Untuk fasilitas kesehatan, data yang dimasukkan terdiri atas Puskesmas Ke'pe dan Balai Penyuluhan KB Kecamatan Kapala Pitu. Peta juga memuat enam tempat peribadatan, yaitu Gereja Katolik Stasi Santo Petrus Ke'pe Polopadang, Gereja Toraja Jemaat Ke'pe, GPSDI Jemaat Bukit Zaitun Tabang, GPSDI Jemaat Tanite, GPDI Imanuel To'Limbong, dan GSPDI Filadelfia To'Limbong.

Selain fasilitas umum, pembagian wilayah juga menjadi bagian dari pemetaan. Lima dusun yang dicatat adalah Dusun Lombok, Dusun To'yasa, Dusun Tanite, Dusun Tabang, dan Dusun Pindan. Informasi tersebut dilengkapi dengan batas wilayah Lembang Polopadang sehingga pengguna dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai cakupan wilayah yang dipetakan.

Tidak Hanya Memetakan, tetapi Juga Mengenalkan Potensi Wisata

Sebagai bagian dari kegiatan KKNT Desa Wisata, pemetaan juga memberikan perhatian pada lokasi yang memiliki potensi wisata. Empat objek wisata yang berhasil dihimpun adalah The Summit Pindan & Villa Maelo, Puncak Dipomelo Pindan, Villa Domadatu, dan Batara White House.

Keempat lokasi tersebut dimasukkan ke dalam peta agar keberadaannya dapat lebih mudah diketahui. Pemetaan objek wisata juga membantu memberikan gambaran mengenai posisi destinasi terhadap fasilitas lain yang berada di wilayah Lembang Polopadang.

Selain objek wisata, beberapa lokasi yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat turut dimasukkan, seperti Simpang 3 Ke'pe, Pasar Pindan, Koperasi Desa Merah Putih Lembang Polopadang, dan Rumah Opa & Oma. Dengan demikian, peta yang dibuat tidak hanya berfungsi sebagai peta wisata, tetapi juga memberikan gambaran mengenai berbagai fasilitas dan lokasi yang terdapat di Lembang Polopadang.

Data Lokasi Dilengkapi Dokumentasi dan Google Maps

Setelah seluruh objek didata, proses dilanjutkan dengan penyusunan informasi ke dalam peta digital. Setiap objek diberikan nama dan kategori berdasarkan data yang telah dikumpulkan. Data lokasi juga dilengkapi dengan tautan yang terhubung dengan Google Maps, sehingga pengguna dapat melanjutkan pencarian lokasi dan memperoleh petunjuk arah menuju tempat yang dipilih.

Dokumentasi foto yang diperoleh selama proses pendataan juga menjadi bagian dari data pendukung. Foto tersebut dapat digunakan untuk memberikan gambaran visual mengenai objek yang telah dipetakan. Penggabungan informasi lokasi, kategori, foto, dan tautan lokasi membuat peta memiliki informasi yang lebih lengkap dibandingkan sekadar daftar nama tempat.

Sebelum peta diselesaikan, data yang telah dimasukkan diperiksa kembali. Pemeriksaan dilakukan terhadap nama objek, kategori, lokasi, serta kelengkapan informasi yang tersedia. Tahap ini dilakukan agar informasi yang ditampilkan pada peta tetap sesuai dengan data yang telah dikumpulkan selama proses di lapangan.

Satu Peta untuk Mengenal Lembang Polopadang

Setelah melalui rangkaian proses tersebut, Peta Digital Lembang Polopadang selesai disusun pada 6 Agustus 2026. Peta ini menjadi salah satu hasil program kerja KKNT Desa Wisata Gelombang 116 Universitas Hasanuddin yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat maupun pengunjung.

Bagi masyarakat, peta dapat menjadi media untuk mengetahui lokasi fasilitas yang terdapat di Lembang Polopadang. Bagi pengunjung, informasi yang tersedia dapat membantu mengenali wilayah, menemukan fasilitas pendukung, serta mengetahui beberapa objek wisata yang dapat dikunjungi.

Keberadaan peta digital juga membuka peluang untuk pengembangan informasi Lembang Polopadang ke depannya. Data yang telah tersedia masih dapat diperbarui apabila terdapat fasilitas baru, perubahan informasi, maupun penambahan objek wisata. Informasi setiap lokasi juga dapat dilengkapi dengan foto, deskripsi, fasilitas, dan akses menuju lokasi.

Melalui program ini, mahasiswa KKNT Desa Wisata Gelombang 116 Universitas Hasanuddin berharap Peta Digital Lembang Polopadang dapat terus dimanfaatkan setelah kegiatan KKNT berakhir. Lebih dari sekadar hasil pemetaan, peta ini diharapkan menjadi media yang membantu masyarakat dan pengunjung mengenal Lembang Polopadang melalui informasi yang lebih mudah diakses, sekaligus memperkenalkan potensi wisata yang dimilikinya.