Tentang mahasiswa, organisasi, dan dunia yang diam-diam kita biarkan mengatur hidup kita
Poster Kita Revolusioner, Hidup Kita Konservatif
Oleh: Muhammad Raid Nabhan
Ketua Umum BPL HMI Cabang Makassar Timur
Ada zaman ketika mahasiswa dianggap sebagai kelompok yang paling gelisah terhadap keadaan. Sedikit ketidakadilan dipersoalkan, kebijakan dibaca, buku diperdebatkan, dan jalanan menjadi ruang untuk mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Hari ini kita masih melakukan semua itu. Bedanya, mungkin sekarang kita punya cara yang jauh lebih mudah untuk terlihat kritis.
Cukup unggah potongan berita, tambahkan satu kutipan filsuf, lalu tulis “realitas hari ini semakin memprihatinkan.”Selesai. Kita merasa sudah mengambil sikap.
Ironisnya, di tengah banjir informasi, mahasiswa justru semakin mudah kehilangan kedalaman berpikir. Kita tahu banyak hal, tetapi tidak selalu memahami apa yang kita bicarakan. Kita cepat berkomentar, cepat menghakimi, cepat membuat kesimpulan, dan bahkan lebih cepat berpindah kepada isu berikutnya. Kritik akhirnya tidak lagi menjadi hasil dari proses berpikir, tetapi menjadi bagian dari konsumsi harian.
Kita tidak kekurangan informasi. Kita hanya mulai kekurangan waktu untuk berpikir.
Saya melihat gejala ini juga di dalam organisasi mahasiswa. Kita masih punya rapat, diskusi, kaderisasi, kajian, demonstrasi, seminar, dan berbagai forum yang secara nama terdengar sangat progresif. Tetapi terkadang saya bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sedang menghidupkan gerakan, atau sekadar menjalankan gerakan yang diwariskan kepada kita?
Sebab ada perbedaan besar antara melakukan sesuatu karena kita memahami alasan di baliknya dan melakukan sesuatu karena memang sudah biasa dilakukan.
Di sinilah saya menemukan pemikiran Jean-Paul Sartre tentang practico-inert cukup relevan untuk membaca realitas hari ini. Sartre melihat bagaimana tindakan manusia dapat menghasilkan struktur, kebiasaan, dan sistem yang pada akhirnya justru membatasi manusia yang menciptakannya. Kita membuat sesuatu, lalu sesuatu itu perlahan mengatur kita.
Bukankah organisasi mahasiswa juga bisa mengalami hal yang sama?
Kita menciptakan tradisi kaderisasi, kemudian tradisi itu menjadi mekanisme. Mekanisme menjadi rutinitas. Rutinitas menjadi sesuatu yang dianggap benar hanya karena sudah berlangsung lama. Pada akhirnya, ketika seseorang bertanya “mengapa harus seperti ini?”, jawabannya sering kali sederhana: “Memang dari dulu begitu.”
Kalimat “dari dulu begitu” barangkali adalah salah satu musuh terbesar intelektualitas.
Sebab sesuatu yang sudah lama dilakukan tidak otomatis menjadi benar. Tradisi tidak selalu harus dibuang, tetapi tradisi harus tetap bisa dipertanyakan. Kalau tidak, organisasi akan berubah menjadi mesin yang hanya mampu mereproduksi dirinya sendiri.
Kader masuk, mengikuti pola, kemudian menjadi senior dan mengajarkan pola yang sama kepada kader berikutnya. Siklus berjalan begitu rapi sampai kita lupa bahwa tujuan kaderisasi bukan menciptakan manusia yang pandai mengikuti, melainkan manusia yang mampu berpikir dan menentukan sikapnya sendiri.
Saya kira ini salah satu persoalan serius gerakan mahasiswa hari ini.
Kita sering mengeluhkan mahasiswa yang apatis. Tetapi saya tidak yakin persoalannya sesederhana itu. Mahasiswa hari ini sebenarnya sangat aktif. Mereka aktif di media sosial, aktif membangun komunitas, aktif mencari pengalaman, aktif berjejaring, aktif mengikuti berbagai kegiatan, bahkan aktif membangun personal branding.
Yang perlu dipertanyakan adalah: aktif untuk apa?
Sebab aktivitas tidak selalu berarti kesadaran. Orang bisa sangat sibuk tanpa pernah tahu ke mana ia sedang berjalan.
Kita mengejar sertifikat karena membutuhkan CV. Mengikuti seminar karena membutuhkan pengalaman. Masuk organisasi karena membutuhkan jaringan. Mengikuti kepanitiaan karena membutuhkan portofolio. Bahkan kegiatan sosial pun kadang harus didokumentasikan terlebih dahulu agar terasa benar-benar terjadi.
Tidak ada yang sepenuhnya salah dari semua itu. Tetapi ketika hampir seluruh aktivitas mahasiswa akhirnya diukur berdasarkan “apa yang saya dapat?”, kita perlu berhenti sebentar dan bertanya: kapan terakhir kali kita melakukan sesuatu hanya karena memang ada sesuatu yang salah dan harus diperbaiki?
Di tengah kondisi ekonomi yang semakin kompetitif, tekanan akademik, tuntutan pekerjaan, perkembangan teknologi, dan budaya personal branding, mahasiswa akhirnya didorong untuk menjadi manusia yang produktif sepanjang waktu.
Harus punya prestasi.
Harus punya pengalaman.
Harus punya jaringan.
Harus punya organisasi.
Harus punya skill.
Harus punya branding.
Harus cepat lulus.
Harus cepat bekerja.
Harus segera menjadi “seseorang”.
Kita begitu sibuk mempersiapkan masa depan sampai lupa bertanya masa depan seperti apa yang sedang kita persiapkan?
Teknologi seharusnya membantu manusia menghemat waktu, tetapi sekarang kita justru merasa tidak punya waktu. Media sosial seharusnya memperluas ruang komunikasi, tetapi sering kali membuat kita hidup dalam ruang gema yang hanya mempertemukan kita dengan orang-orang yang sudah sepakat dengan kita. Pendidikan seharusnya membebaskan manusia dari kebodohan, tetapi kadang kampus hanya menjadi tempat untuk mengejar angka dan gelar.
Ini paradoks manusia modern: kita menciptakan alat untuk memudahkan hidup, lalu perlahan hidup kita disesuaikan dengan kebutuhan alat tersebut.
Sartre menyebut salah satu bentuk persoalan itu melalui practico-inert. Saya melihatnya bukan sebagai konsep yang hanya pantas tinggal di buku filsafat. Ia hidup dalam keseharian kita.
Kita menciptakan sistem, lalu sistem menciptakan kebiasaan. Kebiasaan menciptakan kebutuhan. Kebutuhan menciptakan ketergantungan. Setelah itu kita berkata bahwa tidak ada pilihan lain.
Padahal mungkin pilihan itu masih ada.
Kita hanya sudah terlalu lama tidak mencarinya.
Karena itu, menurut saya, mahasiswa hari ini tidak cukup hanya menjadi kelompok yang paling berisik ketika keadaan sedang buruk. Kita perlu menjadi kelompok yang mampu memahami mengapa keadaan menjadi buruk, siapa yang diuntungkan, siapa yang dirugikan, dan apa yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya.
Kritis bukan berarti selalu menolak.
Kritis juga bukan berarti selalu berbeda.
Dan kritis tentu bukan berarti paling banyak bicara.
Kritis adalah kemampuan untuk mempertanyakan sesuatu bahkan ketika sesuatu itu sudah dianggap normal.
Dalam konteks organisasi, keberanian semacam itu justru jauh lebih penting. Kita harus berani mengkritik pemerintah ketika kebijakan tidak berpihak kepada masyarakat. Tetapi kita juga harus cukup dewasa untuk mengkritik organisasi sendiri ketika organisasi mulai kehilangan tujuan awalnya.
Kita tidak boleh menjadi generasi yang hanya pandai membongkar kesalahan orang lain tetapi tidak mampu memeriksa rumah sendiri.
Sebab pada akhirnya, masalah terbesar mahasiswa mungkin bukan karena kita terlalu sedikit bergerak. Bisa jadi kita terlalu banyak bergerak tanpa sempat bertanya mengapa kita bergerak.
Dan mungkin inilah ironi paling besar dari zaman kita: kita hidup di tengah generasi yang memiliki akses pengetahuan paling luas dalam sejarah, tetapi belum tentu memiliki keberanian intelektual untuk mempertanyakan apa yang sudah dianggap biasa.
Kita punya lebih banyak teknologi, tetapi tidak selalu punya lebih banyak kebijaksanaan.
Kita punya lebih banyak ruang berbicara, tetapi tidak selalu punya sesuatu yang layak dibicarakan.
Kita punya lebih banyak organisasi, tetapi belum tentu memiliki lebih banyak gerakan.
Dan kita punya lebih banyak orang yang mengaku kritis, tetapi mungkin terlalu sedikit yang benar-benar bersedia mengubah cara berpikirnya sendiri.
Maka saya kira tugas mahasiswa hari ini bukan sekadar mempertahankan romantisme bahwa mahasiswa adalah agent of change. Sebutan itu terlalu mudah diucapkan dan terlalu sulit dibuktikan.
Tugas kita jauh lebih sederhana sekaligus lebih berat: berhenti menjadi manusia yang sekadar mengikuti dunia yang sudah tersedia.
Sebab dunia yang kita tempati hari ini bukan sesuatu yang turun dari langit. Ia dibentuk oleh keputusan manusia sebelum kita. Dan dunia yang akan ditempati generasi setelah kita juga sedang kita bentuk melalui keputusan kita hari ini.
Jangan sampai kita sibuk mewarisi dunia, tetapi lupa bahwa kita punya kewajiban untuk mengubahnya.
Dan jangan sampai suatu hari nanti kita sadar bahwa selama ini kita mengaku sedang memperjuangkan perubahan, padahal yang kita lakukan hanya mengulang masa lalu dengan kostum yang lebih modern.
Kembali
Opini
Radikalisme Estetik dan Kritisisme Inersial
admin